Teori Dasat Fotografi

Posted by Unknown 0 komentar
 

Setiap orang yang terjun ke dunia fotografi, terlebih sekarang era digital yang mudah dilihat hasilnya, cenderung bermain instan tanpa dapat mempertanggung jawabkan terhadap apa yang difotonya. Pertanggung jawaban yang dimaksud adalah teknik dasar yang dipergunakannya.

ada beberapa hal yang patut diketahui bagi seorang yang masuk dalam bidang fotografi, namun ilmu paling dasar adalah Teori EXPOSURE. Teori Exposure ini tidak memiliki perubahan definisi maupun komponen, namun karena dalam era digital yang serba mudah, ada sedikit kesalahpahaman yaitu penambahan faktor sensitivitas dari media penangkap gambar.

EXPOSURE adalah nilai dari jumlah cahaya yang diterima oleh kamera sehingga obyek dapat layak dilihat. Exposure HANYA dipengaruhi oleh 2 komponen penting, yaitu Aperture, dan Shutter Speed serta memiliki perhitungan Formula, yaitu :

Exposure = f-index X shutter speed-index

Apperture : Membatasi jumlah cahaya yang masuk ke sensor dengan cara membatasi lebar celah yang ada didalam lensa. Nilai aperture direferensikan dalam satuan "f " dan memiliki nilai yang berbanding terbalik dengan luas celah yang ada.

Berikut ini adalah satuan standar Aperture :

1,4 - 2 - 2,8 - 4 - 5,6 - 8 - 11 - 16 - 22

Setiap 1 step kenaikan angka f, akan mengurangi jumlah cahaya sebesar 2x atau menjadi 1/2 dan sebaliknya setiap 1 step penurunan angka f, akan menambah jumlah cahaya sebesar 2x. Misalnya : dari 5,6 menuju 8, berarti terjadi penurunan jumlah cahaya 2x atau menjadi 1/2. Namun dari 5,6 menuju 4, berarti terjadi kenaikan jumlah cahaya sebesar 2x.

Disamping mengatur jumlah cahaya, Aperture juga memiliki efek bentuk lain yaitu mengatur jarak ruang tajam, atau kedalaman ruang tajam atau juga sering disebut dengan Depth Of Field atau DOF. Semakin besar angka f-index, akan semakin memperbesar DOF tersebut, dan sebaliknya, semakin besar angka f-index akan semakin mempersempit DOF tersebut.

DOF yang sempit hanya memiliki ruang tajam yang sempit, sehingga jika terdapat obyek yang berada di luar ruang tajam tersebut, akan tidak focus (Out Of Focus). Sebaliknya, DOF yang lebar memiliki ruang focus yang juga lebar. Aperture juga salah satu komponen untuk mengatur jumlah cahaya Flash yang masuk.

Shutter Speed

Shutter Speed / SS / Kecepatan Rana adalah membatasi jumlah cahaya dengan membatasi waktu paparan cahaya terhadap sensor. Semakin lama paparan tersebut, semakin terang gambar yang dihasilkan. SS direfleksikan dalam bentuk detik, dan biasanya memiliki nominal standar :

1 - 1/2 - 1/4 - 1/8 - 1/15 - 1/30 - 1/60 - 1/125 - 1/250 - 1/500 - 1/1000 - 1/2000 - 1/4000

Untuk penulisan, biasanya hanya dibaca nominalnya saja, seperti 1/500 dibaca 500, kecuali untuk kecepatan masuk hitungan nominal 1 detik dan seterusnya akan diberi tanda baca tanda kutip (").

Setiap kenaikan 1 step nominal (kecuali dalam nominal 1 detik dst) akan mengurangi jumlah cahaya sebesar 2x atau menjadi 1/2, dan sebaliknya setiap penurunan 1 step nominal akan menambah jumlah cahaya sebesar 2x.

Contoh :

dari 60 ke 125 akan menghasilkan cahaya sebesar 1/2x, sebaliknya dari 60 ke 30 akan menghasilkan cahaya sebesar 2x-nya.

SS membatasi jumlah cahaya continues atau yang berasal dari sumber cahaya tiada henti (bukan flash).

Contoh perhitungan mengenai Exposure dengan 2 komponen Aperture dan Shutter Speed :

misal : Memfoto di taman dengan waktu siang hari cuaca cerah, kita merasa ideal dengan nilai Aperture 5,6 dan SS 60. Nilai ideal berarti = 1.

Karena kita ingin mendapatkan landscape taman semua tajam, maka nilai aperture dinaikkan menjadi 11 (terjadi perubahan sebesar 2 step yang lebih kecil, sehingga nilai cahaya menjadi 1/2 * 1/2 = 1/4).

Agar mempertahankan tingkat cahaya (Exposure) tetap sama, maka 1/4 tersebut harus kembali ke 1 (nilai Ideal). Maka SS harus mengalami perubahan juga, dengan nilai perubahan sebesar 2 step ke lebih lambat (angka ss lebih kecil), yaitu dari 60 ke 15. (60 -> 30 -> 15) sehingga didapat nilai cahaya menjadi 4x.

Sesuai rumus : EXPOSURE = f-index X ss-index, E = 1/4 * 4 = 1.

ISO / ASA / DIN, Nilai sensitivitas dari media penangkap gambar. Semakin besar angka-nya, semakin kecil kebutuhan cahaya yang dibutuhkan agar mendapatkan nilai yang sama dengan sebelumnya yang berarti semakin sensitif media tersebut. Dan sebaliknya, semakin kecil angkanya, semakin besar kebutuhan cahaya yang dibutuhkan agar mendapatkan nilai yang sama dengan sebelumnya, yang berarti semakin TIDAK sensitif.

nilai ISO memiliki standar :

16 - 32 - 64 - 100 - 200 - 400 - 800 - 1600 - 3200 - 6400 - 12800 - 25600

Setiap kenaikan 1 step akan mengkalikan sebesar 2x jumlah cahaya yang diterima (Exposure) secara langsung, dan demikian pula dengan sebaliknya. Arti lainnya, kebutuhan cahaya tersebut akan berkurang sebesar 2x atau 1/2 dari sebelumnya.

Misal :

Pada ISO100, kebutuhan cahaya = 1
Pada ISO200, kebutuhan cahaya = 1/2

Setiap kenaikan ISO, akan turut menaikkan Grainy atau sering disebut Noise.

Jika dimasukkan dalam teori Exposure, maka akan terjadi pergeseran sebanyak 1 step di masing-masing komponen.

Misalnya :

Siang Hari bolong di taman.

ISO100, f5,6, ss 60; E = 1
ISO100, f11, ss 15; E = 1
ISO200, f5,6, ss60; E = 2
ISO200, f8, ss60; E = 1
ISO200, f5,6, ss125; E = 1
ISO200, f11, ss30 = 1
ISO400, f5,6, ss60; E = 4
ISO400, f11, ss60; E = 1
ISO400, f5,6, ss250; E = 1
ISO400, f8, ss125; E = 1

** ISTILAH-ISTILAH YANG SERING DIGUNAKAN **

BOKEH (dari kata Bo'ke~h) 
Efek Bokeh adalah efek Background Blur dimana memanfaatkan DOF yang sempit dan menempatkan sumber cahaya (atau bidang obyek lain yang cerah karena pantulan cahaya) jauh berada dibelakang jarak DOF maksimal, sehingga terjadi bentuk bulat-bulat pada background.


STAR EFFECT 
Star Effect adalah efek sumber cahaya yang berbentuk bintang yang terjadi karena penggunaan Aperture yang sangat sempit dan Speed yang lambat. Efek tersebut muncul karena bentuk blade aperture yang tidak 100% bundar.

FREEZE 
Freeze adalah salah satu jenis efek yang paling mudah diterapkan oleh setiap fotografer yaitu mendapatkan pososi benda menjadi diam tak bergerak meskipun saat pengambilan gambar terjadi sangat cepat. Freeze hanya memanfaatkan Speed yang cukup cepat, di atas kebutuhan dari obyek tersebut. Rata-rata kecepatan yang dibutuhkan kamera untuk menangkap obyek berjalan kaki normal adalah 1/60 sehingga akan didapat obyek yang terlihat sekilas diam (meskipun akan sedikit terlihat blur pada beberapa posisi jika dilihat secara detail). Untuk memastikan agar lebih diam lagi, speed harus berada di atas kecepatan normal tersebut.

MOTION BLUR
Motion Blur adalah pergerakan obyek yang ditangkap oleh kamera yang terlihat blur karena kecepatan shutter kamera yang tidak secepat pergerakan obyek. Misalnya menangkap pergerakan mobil yang sedang melaju dengan menggunakan kecepatan shutter normal (1/60).

PANNING
Panning atau Pan the obyek, juga salah satu efek yang paling sering digunakan oleh para fotografer, dimana mendapatkan obyek yang sedang bergerak dan memberikan gambaran yang sama kepada siapapun yang melihat hasil karya tersebut. Dalam hal ini, obyek yang bergerak harus mampu ditangkap dalam keadaan Freeze namun memiliki titik refrensi Foreground / Background Motion Blur sehingga didapat hasil dimana obyek tersebut diam namun lingkungan sekitarnya bergerak.

LIGHT TRAIL
Light Trail adalah efek yang menangkap pergerakan sebuah atau beberapa sumber cahaya dimana kecepatan shutter kamera adalah lebih rendah daripada kecepatan obyek sumber cahaya sehingga didapatkan hasil seperti sebuah garis terang yang berada didalam image. Sebenarnya, Light Trail juga sebuah efek dari Motion Blur namun obyeknya berupa sumber cahaya, seperti korek api, senter, lampu, bahkan bintang dilangit. 

HIGH Q / LOW Q
High / Low Q, adalah sebuah teknik fotografi yang biasanya diterapkan dalam fotografi Portrait (seperti model, still life). High Q merupakan efek yang memanfaatkan keadaan Over Exposure namun dengan detail yang cukup jelas dan memiliki nilai seni. Sebaliknya, Low Q merupakan efek yang memanfaatkan keadaan Under Exposure namun juga dengan detail yang cukup jelas dan memiliki nilai seni. Teknik fotografi satu ini cukup sulit dilakukan oleh para fotografer junior, dan bahkan juga yang senior karena memanfaatkan unsur seni yang sangat-sangat subyektif.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
Judul: Teori Dasat Fotografi
Ditulis oleh Unknown
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://rumah-haura.blogspot.com/2014/01/teori-dasat-fotografi.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.
Iip Arifin | SMS/WA: 085294386867 | PIN BB: 7BA5CC21 | Bandung, Copyright of Membuat Toko Online Blogspot dan Wordpress.